Rabu, 09 Oktober 2013

BLSM Dipotong Kades

Bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) ratusan warga Desa Gemblengan, Kecamatan Garung diduga disunat oknum kepala desa. Pemotongan dana BLSM ini dilakukan setiap kali pencairan.


Seperti yang dikutip dari suara merdeka cetak, adapun besaran nominal dana yang dipotong masingmasing warga penerima dana bantuan kompensasi kenaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) itu bervariasi, yakni antara Rp 50.000- Rp 70.000.

Alasan oknum perangkat desa dalam memotong dana BLSM warga adalah uang yang terkumpul akan dibagikan kepada warga miskin yang tidak menerima bantuan dari pemerintah pusat tersebut. Namun warga menduga, sebagian dana yang terkumpul tidak diserahkan kepada warga miskin yang tidak menerima BLSM melainkan masuk ke kantong oknum perangkat desa itu, termasuk untuk operasional pencarian.

Informasi yang dihimpun di sejumlah dusun, Rabu (9/10) menyebutkan, jumlah penerima BLSM di Desa Gemblengsari mencapai 421 rumah tangga sasaran (RTS) yang tersebar di lima dusun.

Pencairannya dilakukan di kantor desa setempat. Penyunatan dana dilakukan setelah seluruh warga mencairkan bantuan tersebut. Teknisnya, warga dikumpulkan oleh oknum perangkat desa dan mereka diminta menyerahkan sebagian dana bantuan itu dan besaran nominal pemotongan tidak sama.

Ada lima warga yang ditemui mengaku pemotongan tersebut dengan paksaan dan diancam, serta dilarang melapor kepada siapapun. Nur Khotib (60) warga RT 4 RW 4, Dusun Kasiman, Desa Gembelangan mengaku, setiap pencairan BLSM dipotong sebesar Rp 70.000. Uang tersebut dipotong oleh panitia yang terdiri atas oknum perangkat desa.

“Inginnya ya menerima utuh. Tapi karena semua penerima BLSM dipotong, akhirnya dengan terpaksa saya menuruti,” katanya. Salah seorang warga Dusun Bedilon, HS (45) mengaku para perangkat desa berinisial TB (40) mengancam tidak memberi BLSM jika ada yang melapor ke media.

Menurutnya hal itu sudah menjadi kesepakatan perangkat sehingga mau tidak mau harus mengikuti aturan.”Banyak warga mampu yang juga dapat uang dari BLSM warga miskin,” katanya. Kepala Gemblengan Topo membantah kalau ada penyunatan BLSM namun istilahnya hibah.

Menurutnya, dana penerima dikurangi didasarkan pada kesepakatan warga dan untuk mengantisipasi kecemburuan sosial lantaran ada warga miskin yang tidak menerima bantuan tersebut. Dijelaskan, setiap penerima BLSM dipotong Rp 70.000 kemudian dihibahkan kepada warga non kuota BLSM sebesar Rp 80.000/orang. “Warga sudah sepakat memotong sendiri dana BLSM yang diterima untuk diberikan kepada warga miskin yang tidak mendapatkannya.

Jumat, 04 Oktober 2013

Satpol PP Tertibkan Baliho Sembarang

Satuan Polisi Pamong Praja (satpol PP) Kabupaten Wonsobo berjanji akan menertibkan baliho dan spanduk para calon anggota legislatif dan baliho tak berizin yang dipasang di sejumlah jalur protokol.



Seperti yang dikutip dari suara merdeka, di jalur Kertek-Sapuran baliho kantor pajak yang berisi imbauan agar warga bayar pajak tepat pada waktunya sudah dua tahun ini tak bayar pajak. Baliho ukuran besar tersebut juga dipasang tidak pada tempatnya karena berada di pertigaan Pasar Kertek. Kasi Penegakan Perda Satpol PP Wonosobo Jumat (4/10), Eko Hapsanto mengatakan, pihaknya akan mencopot baliho tak berizin termasuk milik kantor pajak.

Menurutnya, baliho kantor pajak milik Provinsi Jateng tersebut bakal dibongkar karena sudah dua tahun tak berizin. Saat ini pihaknya sedang mempersiapkan tukang las yang bakal memotong sejumlah papan baliho yang tak berizin.

Dari pendataan sementara ada 56 baliho ukuran besar yang bakal dicopot. Dia menegaskan, lokasiñlokasi yang telah ditentukan tersebut merupakan akses jalan utama seperti di sepanjang Kledung-Parakan, akses jalan provinsi dan di lokasiñlokasi wisata, cagar budaya, sarana pemerintahan dan tempat ibadah.

Pemasangan alat peraga iklan maupun kampanye tak berizin dianggapnya merupakan pelanggaran terhadap Perda, sehingga bagi Satpol PP dalam menjalankan tugasnya sebagai penegak perda. ‘’Untuk itu, saat ini yang kami lakukan adalah mencopot semua baliho,’’ tandasnya.

Koordinasi DPPKAD


Selain itu juga, Satpol PP sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) dan kantor perizinan terpadu, terkait banyaknya baliho liar maupun baliho caleg yang dipasang di sepanjang ruas jalan di seluruh Wonosobo. Dari hasil koordinasi tersebut didapati sejumlah baliho liar karena tidak memiliki izin dan tidak membayar pajak.

‘’Siapa pun yang memasang kami tidak peduli,” katanya. Pihaknya menyontohkan ada satu papan reklame ukuran 4x5 meter di jalur Kledung-Kertek dekat perkebunan teh Bedakah milik DPRD Provinsi Jateng yang tak berizin.

Reklame yang bergambar mantan Gubernur Bibit Waluyo tersebut bakal dicopot bersama foto Bibit lainnya yang masih ada di Wonosobo. “Foto mantan gubernur akan kami copot,” jelasnya. Selain itu penertiban baliho juga akan diberlakuan di sejumlah titik yang mengganggu arus lalu lintas.

Sabtu, 28 September 2013

Beasiswa Pemerintah Wonosobo Untuk 46 Pelajar

Sebanyak 46 pelajar SLTA dan 2 mahasiswa menerima beasiswa pendidikan selama dua tahun. Dua mahasiswa adalah dipilih berdasarkan prestasi yang pernah diikuti sekala daerah maupun internasional. Total bantuan yang digelontorkan sebesar Rp 128 juta.


Seperti yang dikutip dari suara merdeka, pendistribusian beasiswa pendidikan Anugerah Siswa Berprestasi menggandeng Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Wonosobo, Dinas Koperasi dan UMKM, dan Dinas Sosial untuk pengawalan program Corporate Society Responsibility (CSR) perusahaan dilakukan agar tepat sasaran.

Dia menambahkan, beasiswa diberikan kepada 46 pelajar SLTA, yang berasal dari 17 SMA/SMK/MA di Wonosobo dan 2 SMA/­ SMK asal Banjarnegara, yakni SMA 1 Ba­wang dan SMK 1 Bawang.

Adapun mahasiswa penerima beasiswa adalah Wahid (19) asal Kecamatan Bawang Kabupaten Banjarnegara, yang saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Deni Ariyati (23) mahasiswi UNY asal Desa Ngaliyan Kecamatan Wadaslintang penemu obat pencegah kanker dari sari buah carica.

Total dana yang digelontorkan oleh pihaknya sebesar Rp 128 juta bagi 46 pelajar, dimana tiap pelajar menerima beasiswa senilai Rp 120.000/bu­lan selama 2 tahun ajaran, sehingga beasiswa kali ini dikhususkan bagi pelajar SLTA kelas XI dan XII, yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Adapun Wahid, penerima beasiswa bertajuk beasiswa etoster menerima uang pendidikan senilai Rp 6 juta dan Deni Ariyati penerima beasiswa bertajuk beasiswa etoster entrepreneur, menerima uang pembinaan senilai Rp 8 juta.

Target Rp 1,3 Miliar


‘’Dana-dana bantuan tersebut berasal dari pengumpulan zakat, infaq, sedekah, wakaf dan qurban pihak-pihak yang berkecukupan, yang dikelola Baitul Maal BMT Marhamah. Target tahun ini bisa terkumpul dana sebesar Rp 1,3 miliar,’’ jelasnya.

Direktur BMT Marhamah, Nur Basuki mengatakan, bantuan diberikan melalui program Corporate Society Responsibility (CSR) Bank Marhamah.

Dia meminta kepada para pelajar dan mahasiswa penerima beasiswa, agar sedari dini mulai menerapkan pola-pola kewirausahaan, seperti membeli sesuatu berdasar kebutuhan bukan berdasar keinginan, serta menerapkan 5 kunci sukses yakni selalu belajar, selalu berpartisipasi, selalu bersemangat, selalu menolong dan selalu berdakwah.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Wonosobo, One Andang Wardoyo, berpesan kepada para pelajar penerima beasiswa, agar bisa memanfaatkan bantuan yang diterima untuk keperluan sekolah. Adapun bagi mahasiswa penerima beasiswa etoster, dia meminta agar apa yang mereka lakukan bisa menjadi contoh kaum muda lainnya dalam mengembangkan dunia kewirausahaan.

Dukun Desa Kepil Ditangkap Karena Pembunuhan

Dukun Desa Kepil bernama Pono alias Yanto (34) ditangkap oleh Polda Jateng terkait kematian anak dari seorang profesor Undip, Yulanda Rifan. Yang diduga dibunuh oleh dukun pengganda uang, Muhyaro.


Seperti yang dikutip dari tribunnews, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jateng, Kombes Purwadi, mengatakan, Pono diduga turut membantu Muhyaro menghabisi Rifan.

"Penetapan tersangka telah dilakukan pada 23 Juli lalu. Itu berdasarkan pengakuan Muhyaro sebelum meninggal, tetapi Pono tidak mengakui bila dia ikut membunuh Rifan. Muhyaro dalam pengakuannya sering berubah, tim Mabes Polri dan Polda Jateng sering dibohongi. Pernah beberapa kali menunjukkan sebuah kuburan korban tapi ternyata jurang," kata Purwadi, saat gelar perkara di Mapolda Jateng, Senin (30/7/2013).

Dijelaskannya, pasal yang dikenakan terhadap Pono yaitu KUHP Pasal 55 tentang turut serta melakukan perbuatan jahat. Selain diduga membantu pembunuhan, Pono juga pelaku penggandaan uang. Dugaan penipuan yang dilakukan Pono telah dilaporkan seorang warga asal Kudus. Pono saat ini ditahan di sel di Mapolda Jateng. Sementara terkait identitas dua jenazah lain, Purwadi mengungkapkan, identitas kedua korban belum dapat terkuak.

"Kami berharap masyarakat yang kehilangan keluarganya dapat melapor ke kantor polisi terdekat," tambahnya.

Jumat, 27 September 2013

Sagon Wonosobo, Makanan Khas Yang Enak

sagon wonosobo

Sagon, salah satu makanan khas Wonosobo yang unik, terbuat dari tepung ketan dan parutan kelapa yang berbentuk bulat dan cekung di tengahnya. Pembuatannya pun di bakar di atas bara.

Di Wonosobo sagon ini banyak dijual di lantai dua pasar induk wonosobo, banyak penjual yang menempati hampir satu los dari lantai dua ini untuk menjual makanan yang satu ini. Dalam sehari rata-rata setiap penjual dapat menghabiskan 30-40 kg tepung ketan.

Makanan ini selain berbahan dasar tepung ketan dan parutan kelapa, juga biasanya ditambahkan gula dan vanili sebagai perasa tambahan. Selain harganya murah, sagon ini juga banyak diminati oleh banyak wisatawan karena rasanya yang manis dan gurih.

Bagi anda yang ingin menikmati makanan ini bisa langsung kunjungi pasar induk Wonosobo, disana anda dapat melihat langsung keunikan cara pengolahan makanan yang satu ini, sagon-sagon dibakar di atas bara arang, juga menjadi atraksi yang cukup menarik. Racikan Sagon mentah yang terdiri atas tepung ketan, parutan kelapa, gula pasir dan vanili itu ditempatkan dalam satu cetakan aluminium berbentuk bulat. Lalu, Sagon dalam cetakan itu dibakar dengan bara arang dari dua sisi : bawah dan atas. Tak sampai lima menit, Sagon panas beraroma harus itu sudah matang dan siap disantap.

Kamis, 26 September 2013

Opak Singkong

Opak singkong adalah salah satu jenis makanan khas Wonosobo, bagi sebagian orang jawa, singkong atau ketela pohon sudah tak jauh beda dengan nasi, karena banyak orang jawa yang menjadikan singkong sebagai alternatif makanan pokok selain nasi, tak heran jika kemudian singkong ini banyak diolah menjadi berbagai macam makanan yang lebih enak dan lebih menarik.


Di Kota Wonosobo, masyarakat mengubah singkong ini menjadi produk kerupuk yang khas, dan mereka biasa menyebutnya dengan opak singkong, dengan rasa yang gurih dan lezat, produk ini menyebar ke seluruh penjuru tanah air. Hampir di seluruh toko khas oleh-oleh hingga swalayan besar di Wonosobo pasti menyediakan makanan yang satu ini.


Menurut beberapa sumber, opak ini berasal dari Desa Kalibeber, sekarang sudah ada banyak industri rumah tangga yang memproduksi dengan sekala kecil hingga besar, cara pembuatannya juga cukup mudah, singkong dikukus, setelah itu ditumbuk hingga halus dan ditambahkan bumbu, lalu pipihkan sebelum dijemur, setelah kering, lalu digoreng.

Tertarik untuk menikmati makanan nikmat yang satu ini? silahkan datang saja ke Wonosobo.