Rabu, 25 September 2013
Calon Haji Asal Wonolelo Meninggal Dunia
Seperti yang dikutip dari krjogja, calon haji wonosobo bernama Kanin Bin Sujak (67) calon haji asal wonolelo ini meninggal dunia selasa (25/9) 4.00 waktu makkah atau pukul 08.00 wib. Jenasah pada hari itu juga dimakamkan di pemakaman umum setempat.
Menurut salah seorang calhaj asal Wonosobo, Aminudin Rindwan, sebelumnya Kimin yang juga salah satu ketua regu calhaj Wonosobo sudah melakukan tawaf dan sa'i wajib, karena mengambil haji tamatuk. Setelah melakukan umrah wajib, katanya, dia pulang ke maktab (pemondokan) tidak ada keluhan yang berarti. Namun, pada pagi hari dirinya mengeluhkan sakit hingga akhirnya meninggal dunia.
Seperti yang di dilaporkan wartawan KR dari Makah, kemarin, rombongan jamaah calhaj Temanggung dan Wonosobo kloter 15 sudah berangkat ke Makah dari Madinah, Senin(24/9). Sampai Makah pukul 16.00 waktu setempat, kemudian pada 19.00, calhaj Temanggung dan Wonosobo melaksanakan umrah wajib. Sementara kawasan masjidil haram penuh sesak meski sudah ada pengurangan 20 persen, terkait dengan perluasan kawasan masjid tersebut.
Selasa, 24 September 2013
Polisi Menangkap Warga Kejiwan Dikarenakan Sabu
Kepolisian Resor Wonosobo menangkap salah seorang warga Kelurahan Kejiwan, Kabupaten Wonosobo, Panut (40). Seperti yang dikutip dari Antara News (23 September). Panut terbukti telah menyimpan sabu.
Kasubbag Humas Polres Wonosobo, AKP Widayatno, di Wonosobo, Senin, mengatakan, pelaku ditangkap di rumahnya beserta barang bukti berupa sabu-sabu seberat 0,5 gram. Berdasarkan keterangan pelaku, katanya, dia mendapatkan barang haram tersebut membeli dari seorang warga asal Semarang.
"Proses transaksi dengan transfer antar rekening. Sedangkan pengiriman barang dengan cara ditinggal di pinggir jalan. Oleh kurir, sabu-sabu tersebut dibungkus menggunakan kertas tissue dan di tinggalkan di tepi jalan," katanya.
Ia mengatakan, kurir yang masih buron tersebut meletakkan barang di tepi jalan kemudian menghubungi pelaku untuk mengambilnya, sehingga antara tersangka dengan kurir maupun pengedarnya tidak saling bertemu.
"Pelaku sudah merupakan target polisi selama sebulan terakhir," katanya.
Ia menuturkan, baik kurir maupun penjual sabu asal Semarang masih diselidiki keberadaannya. Menurut dia, Wonosobo merupakan daerah rentan peredaran narkoba karena berada di jalur tengah antara Semarang-Purwokerto.
Ia mengatakan, pelaku telah dua kali membeli sabu-sabu dengan cara yang sama. Saat ini tersangka ditahan di ruang tahanan Polres Wonosobo guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Pelaku dijerat dengan Pasal 112 ayat 1 atau Pasal 114 ayat 1 UU RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman perjara minimal lima tahun.
Kasubbag Humas Polres Wonosobo, AKP Widayatno, di Wonosobo, Senin, mengatakan, pelaku ditangkap di rumahnya beserta barang bukti berupa sabu-sabu seberat 0,5 gram. Berdasarkan keterangan pelaku, katanya, dia mendapatkan barang haram tersebut membeli dari seorang warga asal Semarang.
"Proses transaksi dengan transfer antar rekening. Sedangkan pengiriman barang dengan cara ditinggal di pinggir jalan. Oleh kurir, sabu-sabu tersebut dibungkus menggunakan kertas tissue dan di tinggalkan di tepi jalan," katanya.
Ia mengatakan, kurir yang masih buron tersebut meletakkan barang di tepi jalan kemudian menghubungi pelaku untuk mengambilnya, sehingga antara tersangka dengan kurir maupun pengedarnya tidak saling bertemu.
"Pelaku sudah merupakan target polisi selama sebulan terakhir," katanya.
Ia menuturkan, baik kurir maupun penjual sabu asal Semarang masih diselidiki keberadaannya. Menurut dia, Wonosobo merupakan daerah rentan peredaran narkoba karena berada di jalur tengah antara Semarang-Purwokerto.
Ia mengatakan, pelaku telah dua kali membeli sabu-sabu dengan cara yang sama. Saat ini tersangka ditahan di ruang tahanan Polres Wonosobo guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Pelaku dijerat dengan Pasal 112 ayat 1 atau Pasal 114 ayat 1 UU RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman perjara minimal lima tahun.
Petani Kabupaten Wonosobo Menunggu Datangnya Hujan
Wonosobo 25 September 2013 - Dengan kondisi cuaca saat ini, petani masih menunggu datangnya hujan untuk memulai menanam tanaman mereka, kebanyakan dari petani Kabupaten Wonosobo belum memulai menanam dan juga ada yang sudah menanam tapi hanya sebagian kecil, faktor ini dipengaruhi oleh intensitas hujan.
Dari berbagai wilayah, misalnya daerah timur Kec. Kertek perbatasan dengan Kabupaten Temanggung, mayoritas masyarakatnya baru saja selesai memanen tembakau, dan untuk memulainya kembali, petani menunggu hujan.
Tanaman yang biasa di tanam di Wonosobo adalah cabai, kentang, kubis, tembakau, kol, oncang, dan masih banyak lagi.
Menurut Badan Meteoroli Klimatologi dan Geofisika, 25 September hingga 26 September, cuaca Kabupaten Wonosobo adalah hujan ringan dengan suhu 23 -32 Derajat Celscius, kelembapan 60-90 persen, kecepatan angin 25 km/jam kearah timur.
Dari berbagai wilayah, misalnya daerah timur Kec. Kertek perbatasan dengan Kabupaten Temanggung, mayoritas masyarakatnya baru saja selesai memanen tembakau, dan untuk memulainya kembali, petani menunggu hujan.
Tanaman yang biasa di tanam di Wonosobo adalah cabai, kentang, kubis, tembakau, kol, oncang, dan masih banyak lagi.
Menurut Badan Meteoroli Klimatologi dan Geofisika, 25 September hingga 26 September, cuaca Kabupaten Wonosobo adalah hujan ringan dengan suhu 23 -32 Derajat Celscius, kelembapan 60-90 persen, kecepatan angin 25 km/jam kearah timur.
Jumat, 20 September 2013
Purwaceng, Viagra Tradisional
Purwaceng, salah satu tanaman yang banyak tumbuh di Dataran Tinggi Dieng ini merupakan salah satu tanaman yang dapat diproduksi sebagai 'jamu tradisional', produk unggulan Kota Wonosobo. Tanaman berdaun kecil dengan nama latin 'Pimpinella pruatjan' dapat meningkatkan stamina bagi peminum, tanaman ini biasanya diolah menjadi kopi purwaceng, bubuk purwaceng dan susu purwaceng.
Seperti dikutip dari wikipedia, purwaceng adalah tanaman legendaris yang dijadikan obat kuat oleh para raja atau kalangan istana di daerah Jawa. Di Indonesia tumbuhan atau tanaman obat yang memiliki khasiat penambah stamina (aprosidiak) umumnya digunakan atas dasar mitos, kepercayaan dan pengalaman. Namun khasiat tanaman Purwaceng ini bukan sekedar mitos belaka karena studi sudah membuktikannya.
Purwaceng banyak ditemukan di pegunungan seperti di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Nama latin Purwaceng adalah Pimpinella pruatjan (alpina). Pertama kali ditemukan di pegunungan Alpen, Swiss dengan ketinggian 2000-3000 meter di atas permukaan laut. Tumbuhan ini dikenal juga dengan nama lain Suripandak abang (pegunungan Lyang, Jawa Timur) dan Gebangan Depok (Gunung Tengger).
Penampakan fisik Purwaceng adalah semak kecil merambat di atas permukaan tanah seperti tumbuhan pegagan dan semanggi gunung. Daunnya kecil-kecil berwarna hijau kemerahan dengan diameter 1-3 cm.
Dari berbagai penelitian yang dilakukan beberapa perguruan tinggi dalam negeri diketahui bahwa ada efek nyata antara tanaman purwaceng terhadap peningkatan kemampuan seksual. Oleh karena itu, Purwaceng sering disebut sebagai Viagra tradisional atau Viagra Indonesia.
Seperti dikutip dari hasil studi peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2007, seluruh bagian tanaman purwaceng dapat digunakan sebagai obat tradisional, namun bagian yang paling berkhasiat adalah akarnya.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan juga membenarkan bahwa akarnya mempunyai sifat diuretika dan digunakan sebagai aprosidiak, yaitu khasiat obat yang dapat meningkatkan atau menambah stamina.
Umumnya tumbuhan atau tanaman yang berkhasiat sebagai aprosidiak mengandung senyawa-senyawa turunan saponin, alkaloid, tanin, dan senyawa-senyawa lain yang berkhasiat sebagai penguat tubuh serta memperlancar peredaran darah.
Bahan aktif purwaceng paling banyak terdapat pada bagian akarnya yang menyerupai wortel dan berwarna putih, panjangnya sekitar 10 cm. Akar purwaceng mengandung turunan senyawa kumarin yang sering digunakan dalam industri obat modern, tetapi bukan untuk aprodisiak melainkan untuk anti bakteri, anti fungi dan anti kanker.
Namun sebuah penelitian yang dikutip dari buku Mitos Seputar Masalah Seksual dan Kesehatan Reproduksi, Sabtu (23/1/2010) menyebutkan, Purwaceng dapat meningkatkan gairah seks, meningkatkan hormon testosteron dan meningkatkan jumlah spermatozoid, merupakan obat kuat herbal.
Untuk mendapatkan khasiat secara nyata, Purwaceng harus diminum teratur selama 7-15 hari. Selain itu tanaman ini juga berkhasiat menghangatkan tubuh, saraf dan otot, menghilangkan masuk angin dan pegal linu, melancarkan buang air kecil, obat analgetika (menghilangkan rasa sakit), menurunkan panas, obat cacing, antibakteri serta anti kanker. Purwaceng yang asli memiliki rasa khas, yaitu pedas, yang dihasilkan oleh akar dan bijinya.
Purwaceng sebenarnya tergolong tanaman langka, namun kini dapat diselamatkan dengan budi daya menggunakan metode kultur in vitro.
sumber : wikipedia
Seperti dikutip dari wikipedia, purwaceng adalah tanaman legendaris yang dijadikan obat kuat oleh para raja atau kalangan istana di daerah Jawa. Di Indonesia tumbuhan atau tanaman obat yang memiliki khasiat penambah stamina (aprosidiak) umumnya digunakan atas dasar mitos, kepercayaan dan pengalaman. Namun khasiat tanaman Purwaceng ini bukan sekedar mitos belaka karena studi sudah membuktikannya.
Purwaceng banyak ditemukan di pegunungan seperti di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Nama latin Purwaceng adalah Pimpinella pruatjan (alpina). Pertama kali ditemukan di pegunungan Alpen, Swiss dengan ketinggian 2000-3000 meter di atas permukaan laut. Tumbuhan ini dikenal juga dengan nama lain Suripandak abang (pegunungan Lyang, Jawa Timur) dan Gebangan Depok (Gunung Tengger).
Penampakan fisik Purwaceng adalah semak kecil merambat di atas permukaan tanah seperti tumbuhan pegagan dan semanggi gunung. Daunnya kecil-kecil berwarna hijau kemerahan dengan diameter 1-3 cm.
Khasiat Purwaceng
Seperti dikutip dari hasil studi peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2007, seluruh bagian tanaman purwaceng dapat digunakan sebagai obat tradisional, namun bagian yang paling berkhasiat adalah akarnya.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan juga membenarkan bahwa akarnya mempunyai sifat diuretika dan digunakan sebagai aprosidiak, yaitu khasiat obat yang dapat meningkatkan atau menambah stamina.
Umumnya tumbuhan atau tanaman yang berkhasiat sebagai aprosidiak mengandung senyawa-senyawa turunan saponin, alkaloid, tanin, dan senyawa-senyawa lain yang berkhasiat sebagai penguat tubuh serta memperlancar peredaran darah.
Bahan aktif purwaceng paling banyak terdapat pada bagian akarnya yang menyerupai wortel dan berwarna putih, panjangnya sekitar 10 cm. Akar purwaceng mengandung turunan senyawa kumarin yang sering digunakan dalam industri obat modern, tetapi bukan untuk aprodisiak melainkan untuk anti bakteri, anti fungi dan anti kanker.
Namun sebuah penelitian yang dikutip dari buku Mitos Seputar Masalah Seksual dan Kesehatan Reproduksi, Sabtu (23/1/2010) menyebutkan, Purwaceng dapat meningkatkan gairah seks, meningkatkan hormon testosteron dan meningkatkan jumlah spermatozoid, merupakan obat kuat herbal.
Untuk mendapatkan khasiat secara nyata, Purwaceng harus diminum teratur selama 7-15 hari. Selain itu tanaman ini juga berkhasiat menghangatkan tubuh, saraf dan otot, menghilangkan masuk angin dan pegal linu, melancarkan buang air kecil, obat analgetika (menghilangkan rasa sakit), menurunkan panas, obat cacing, antibakteri serta anti kanker. Purwaceng yang asli memiliki rasa khas, yaitu pedas, yang dihasilkan oleh akar dan bijinya.
Purwaceng sebenarnya tergolong tanaman langka, namun kini dapat diselamatkan dengan budi daya menggunakan metode kultur in vitro.
sumber : wikipedia
Kamis, 19 September 2013
Tiga Anak Tewas Kecebur Septic Tank
Kejadian mengenaskan ini menimpa 3 balita warga dusun Tegalrejo Rt 29 Rw 10, Desa Tambi, Kec. Kejajar, Wonosobo. Seperti dikutip dari Suara Merdeka Cetak (19/9), mereka tewas tercebur ke dalam septic tank sedalam tujuh meter milik tetangga, Rabu (18/9) sekitar pukul 17.30.
Ketiganya adalah Citra Oktaviana Putri (5), Nur Aini (4), dan Makrufah (3). Dua korban terakhir kakak beradik. Tak ada seorang saksi pun yang melihat kejadian itu. Musibah tersebut diduga terjadi saat ketiga bocah tersebut bermain-main dan masuk ke lubang ukuran 60 x 60 cm dan kedalaman 60 cm yang terletak di pojok atas septick tank.
Ketiganya diperkirakan jatuh akibat penahan dari bambu sudah keropos dan tak kuat menahan beban. Ketiga jenazah korban kali pertama ditemukan oleh Pontiah (29), ibu Citra, sekitar pukul 18.30.
Saat itu, Pontiah mencari anaknya karena tak kunjung pulang saat Magrib. Pontiah berteriak histeris hingga mengundang perhatian tetangga yang kemudian berdatangan dan mengevakuasi para korban.
Menurut paman Citra, Edi Yulianto, ketiga anak itu memang kerap bermain bersama. Sebelum kejadian, para korban mengaji di TPQ At-Taufiq Tambi, sekitar pukul 16.30.
Setelah pulang, Citra berpamitan hendak membeli jajan di warung yang berjarak sekitar 15 meter dari rumahnya. ”Tapi sampai Magrib belum pulang, sehingga ibunya mencari Citra,” kata Edi. Saat ditemukan, tubuh ketiga korban mengambang di genangan air dan kotoran berkedalaman dua meter.
Dua warga, Haryono dan Sugiyanto, turun menggunakan tangga dan mengangkat jenazah. Evakuasi dilakukan satu per satu menggunakan sarung karena lubang septic tank sempit. ”Diperkirakan korban tercebur sekitar pukul 17.30. Semua sudah meninggal saat ditemukan,” ujar Kepala Dusun Tegalrejo Purwanto.
Menurut dia, septic tank tersebut dibangun oleh pemilik rumah, Matnadi (35), sekitar tiga tahun lalu. Namun, dua tahun silam Matnadi merantau ke Kalimantan hingga sekarang. Rumahnya dikontrakkan kepada pendatang asal Desa Buntu, Kecamatan Kejajar, Romi (34) dan Opit (32). ”Rumah itu selama ini kosong, baru empat bulan lalu dikontrakkan,” katanya.
Purwanto menambahkan, anak-anak kerap bermain di sekitar tempat itu karena halamannya lapang dan ada warung untuk jajan. Pengontrak rumah tidak tahu di bawah lahan bekas taman tersebut ada septic tank. Menurut Purwanto, lubang septick tank ambrol karena konstruksinya tidak menggunakan rangka besi, hanya memakai bambu dan kayu.
Sementara itu, mengetahui ketiga anak tewas, Opit yang sedang hamil tujuh bulan kali syok dan dilarikan ke dokter. Ibu ketiga korban beberapa kali pingsan. Bapak Nur Aini dan Makrufah, Juwarno, terlihat murung dan tidak banyak berkata-kata saat menemui para pelayat. Ketiga korban langsung dimakamkan pada Rabu (19/9) sekitar pukul 23.00.
Kamis (19/9) siang, lokasi kejadian dijaga sejumlah warga. Aparat kepolisian yang dipimpin Kapolres AKBP Agus Pujianto telah menyelidiki TKP. Menurut Kasat Reskrim AKP Sunarto, dari hasil penyelidikan, disimpulkan kejadian itu murni musibah.
Sumber : Suara Merdeka Cetak
![]() |
| sumber : sm cetak |
Ketiganya adalah Citra Oktaviana Putri (5), Nur Aini (4), dan Makrufah (3). Dua korban terakhir kakak beradik. Tak ada seorang saksi pun yang melihat kejadian itu. Musibah tersebut diduga terjadi saat ketiga bocah tersebut bermain-main dan masuk ke lubang ukuran 60 x 60 cm dan kedalaman 60 cm yang terletak di pojok atas septick tank.
Ketiganya diperkirakan jatuh akibat penahan dari bambu sudah keropos dan tak kuat menahan beban. Ketiga jenazah korban kali pertama ditemukan oleh Pontiah (29), ibu Citra, sekitar pukul 18.30.
Saat itu, Pontiah mencari anaknya karena tak kunjung pulang saat Magrib. Pontiah berteriak histeris hingga mengundang perhatian tetangga yang kemudian berdatangan dan mengevakuasi para korban.
Menurut paman Citra, Edi Yulianto, ketiga anak itu memang kerap bermain bersama. Sebelum kejadian, para korban mengaji di TPQ At-Taufiq Tambi, sekitar pukul 16.30.
Setelah pulang, Citra berpamitan hendak membeli jajan di warung yang berjarak sekitar 15 meter dari rumahnya. ”Tapi sampai Magrib belum pulang, sehingga ibunya mencari Citra,” kata Edi. Saat ditemukan, tubuh ketiga korban mengambang di genangan air dan kotoran berkedalaman dua meter.
Dua warga, Haryono dan Sugiyanto, turun menggunakan tangga dan mengangkat jenazah. Evakuasi dilakukan satu per satu menggunakan sarung karena lubang septic tank sempit. ”Diperkirakan korban tercebur sekitar pukul 17.30. Semua sudah meninggal saat ditemukan,” ujar Kepala Dusun Tegalrejo Purwanto.
Ditinggal Pemilik
Menurut dia, septic tank tersebut dibangun oleh pemilik rumah, Matnadi (35), sekitar tiga tahun lalu. Namun, dua tahun silam Matnadi merantau ke Kalimantan hingga sekarang. Rumahnya dikontrakkan kepada pendatang asal Desa Buntu, Kecamatan Kejajar, Romi (34) dan Opit (32). ”Rumah itu selama ini kosong, baru empat bulan lalu dikontrakkan,” katanya.
Purwanto menambahkan, anak-anak kerap bermain di sekitar tempat itu karena halamannya lapang dan ada warung untuk jajan. Pengontrak rumah tidak tahu di bawah lahan bekas taman tersebut ada septic tank. Menurut Purwanto, lubang septick tank ambrol karena konstruksinya tidak menggunakan rangka besi, hanya memakai bambu dan kayu.
Sementara itu, mengetahui ketiga anak tewas, Opit yang sedang hamil tujuh bulan kali syok dan dilarikan ke dokter. Ibu ketiga korban beberapa kali pingsan. Bapak Nur Aini dan Makrufah, Juwarno, terlihat murung dan tidak banyak berkata-kata saat menemui para pelayat. Ketiga korban langsung dimakamkan pada Rabu (19/9) sekitar pukul 23.00.
Kamis (19/9) siang, lokasi kejadian dijaga sejumlah warga. Aparat kepolisian yang dipimpin Kapolres AKBP Agus Pujianto telah menyelidiki TKP. Menurut Kasat Reskrim AKP Sunarto, dari hasil penyelidikan, disimpulkan kejadian itu murni musibah.
Sumber : Suara Merdeka Cetak
Sabtu, 14 September 2013
Rambut Gembel Atau Gimbal, Sejarah dan Asal Usulnya
Rambut gembel atau gimbal - Anak reggae pasti mengetahui dengan rambut yang khas satu ini, yaitu rambut gimbal, rambut gimbal yang alami tumbuh dari kepala, yang paling terkenal adalah rambut gimbal Wonosobo atau mereka sering menyebutnya rambut gembel .
Rambut gembel di Wonosobo, Jawa Tengah, bisa dilihat sebagai sebuah fenomena unik. Beberapa sumber lisan menyebutkan rambut gembel hanya terjadi pada anak-anak Wonosobo dan sekitarnya. Sedang kajian peneliti tak banyak karena minimnya literatur yang membahas tema ini. Tradisi lisan yang masih menggenggam erat.
Masyarakat Wonosobo percaya bahwa rambut gembel bukan karena faktor keturunan karena bisa tumbuh pada siapa saja. Disebut rambut gembel karena model rambutnya mirip gelandangan yang tidak pernah mencuci rambut, tapi di Wonosobo rambut gembel muncul secara alami. Ketika rambut gembel akan tumbuh (menurut beberapa sumber) biasanya anak terserang panas yang tinggi selama beberapa hari. Setelah itu, beberapa helai rambutnya menjadi kusut dan menyatu. Dan anak yang berambut gembel harus diruwat melalui sebuah perayaan ritual; ruwatan rambut gembel.
Masyarakat Wonosobo percaya bahwa anak yang berambut gembel merupakan keturunan Ki Kaladete, yang diyakini merupakan salah satu dari 3 pendiri kota Wonosobo. Berbagai mitos memang melatarbelakangi rambut gembel. Ada yang menyebut rambut ini merupakan rambut Kurawa yang hidup di alam para dewa, lalu secara turun-temurun tumbuh kepada anak cucunya hingga Ki Kaladete, yang hidup di alam manusia.
Versi lain menyebutkan suatu kali Ki Kaladete bersumpah tidak akan memotong rambutnya dan tidak akan mandi sebelum desa menjadi makmur dan sejahtera. Kelak kalau keturunannya mempunyai ciri rambut gembel, ini menjadi pertanda desanya akan mengalami kemakmuran.
Ada banyak mitos lain; anak berambut gembel merupakan anak kesayangan Nyi Roro Kidul, penguasa Pantai Selatan. Dan masyarakat Wonosobo memang masih sering ikut ritual-ritual yang dilakukan oleh keraton Yogyakarta untuk Nyi Roro Kidul. Sementara yang lain menyebutkan anak rambut gembel merupakan anak titisan Keling yang menjadi anak kesayangan ”dayang” yang mendiami kawasan Dieng.
Masyarakat percaya bahwa orang tua yang memiliki anak berambut gembel harus memperlakukan anaknya secara istimewa karena bisa mendatangkan rejeki. Jika tidak maka akan terjadi malapetaka. Khususnya ketika anak akan diruwat, orangtua harus memenuhi segala permintaan, yang harus dibawa ketika ruwatan berlangsung. Jika permintaan tersebut tidak dipenuhi maka akan mengalami sakit-sakitan, bahkan bisa berujung kematian dan orangtuanya pun akan mengalami malapetaka.
Mereka meyakini bahwa rambut gimbal baru bisa dipotong setelah ada permintaan dari si anak gembel sendiri. Permintaan tersebut harus dituruti, tidak boleh kurang ataupun lebih. Si anak bisa meminta apa saja, belum lagi ritualnya, hal ini jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Meski begitu, mereka tidak berani melanggar mitos ini karena memotong rambut gimbal sebelum waktunya bisa menyebabkan si anak sakit dan rambutnya kembali menjadi gimbal.
Ritual ruwatan dimulai dengan memandikan anak berambut gembel dahulu oleh dukun pemimpin upacara. Air untuk memandikan biasanya diambil dari tempat-tempat keramat, di daerah Dieng air tersebut diambil dari Gua Sumur. Ada banyak perlengkapan yang dibutuhkan dalam ruwatan.
Sebelum pemotongan rambut gembel ada 2 ritual penting :
Pertama, setelah dukun berdoa, diadakanlah upacara yang lazim disebut tradisi Andha Kencana (ondo langit). Dalam upacara ini si anak diminta menaiki sebuah tangga yang terbuat dari tebu ireng dan anak tangganya dari buah pisang raja. Harapannya si anak mendapatkan pekerjaan yang mulia.
Kedua, upacara midhang. Dalam upacara ini si anak mengelilingi sesaji, lalu dia mengambil makanan kesukaannya yang terhidang di sesaji. Harapannya si anak dapat mencari penghasilan hidup sendiri. Setelah upacara tersebut selesai, ruwatan dilanjutkan dengan ritual cukur rambut. Ritual dimulai dengan memasukkan cincin ke setiap helai rambut gembel dan sang dukun mencukurnya satu per satu. Rambut yang telah dicukur tersebut dibungkus dengan kain putih, kemudian dilarung di sungai atau telaga.
Ruwatan rambut gimbal merupakan acara tahunan yang masuk dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF). Anda beserta keluarga bisa menyaksikan arak-arakan kereta kuda yang membawa anak-anak gimbal ini keliling kampung. Mereka diiringi para abdi berpakaian adat Jawa dan juga diikuti tarian yang dimeriahkan dengan permainan gamelan yang bernuansa tradisi Islam dan Jawa .Penasaran seperti apa ritual cukur gimbal yang penuh aura mistis? Datang saja ke Wonosobo
Rambut gembel, menguak sejarahnya
Rambut gembel di Wonosobo, Jawa Tengah, bisa dilihat sebagai sebuah fenomena unik. Beberapa sumber lisan menyebutkan rambut gembel hanya terjadi pada anak-anak Wonosobo dan sekitarnya. Sedang kajian peneliti tak banyak karena minimnya literatur yang membahas tema ini. Tradisi lisan yang masih menggenggam erat.
Masyarakat Wonosobo percaya bahwa rambut gembel bukan karena faktor keturunan karena bisa tumbuh pada siapa saja. Disebut rambut gembel karena model rambutnya mirip gelandangan yang tidak pernah mencuci rambut, tapi di Wonosobo rambut gembel muncul secara alami. Ketika rambut gembel akan tumbuh (menurut beberapa sumber) biasanya anak terserang panas yang tinggi selama beberapa hari. Setelah itu, beberapa helai rambutnya menjadi kusut dan menyatu. Dan anak yang berambut gembel harus diruwat melalui sebuah perayaan ritual; ruwatan rambut gembel.
Versi lain menyebutkan suatu kali Ki Kaladete bersumpah tidak akan memotong rambutnya dan tidak akan mandi sebelum desa menjadi makmur dan sejahtera. Kelak kalau keturunannya mempunyai ciri rambut gembel, ini menjadi pertanda desanya akan mengalami kemakmuran.
Mitos Lain
Ruwatan / Pemotongan Rambut Gimbal
Sebelum pemotongan rambut gembel ada 2 ritual penting :
Pertama, setelah dukun berdoa, diadakanlah upacara yang lazim disebut tradisi Andha Kencana (ondo langit). Dalam upacara ini si anak diminta menaiki sebuah tangga yang terbuat dari tebu ireng dan anak tangganya dari buah pisang raja. Harapannya si anak mendapatkan pekerjaan yang mulia.
Kedua, upacara midhang. Dalam upacara ini si anak mengelilingi sesaji, lalu dia mengambil makanan kesukaannya yang terhidang di sesaji. Harapannya si anak dapat mencari penghasilan hidup sendiri. Setelah upacara tersebut selesai, ruwatan dilanjutkan dengan ritual cukur rambut. Ritual dimulai dengan memasukkan cincin ke setiap helai rambut gembel dan sang dukun mencukurnya satu per satu. Rambut yang telah dicukur tersebut dibungkus dengan kain putih, kemudian dilarung di sungai atau telaga.
Beberapa foto acara ruwatan rambut gimbal,
Langganan:
Postingan (Atom)











