Selasa, 27 Agustus 2013

Daging Ayam Dicuci, Bakteri Menyebar


Health - Sebelum memasak ayam, biasanya anda pasti mencucinya terlebih dahulu, dengan dicuci anda beranggapan akan menghilangkan kotoran yang ada pada daging ayam tersebut, akan tetapi hal itu justru akan membuat bakterinya menyebar ke sekeliling dapur, dikutip dari tribunnews.com (28/8), sebuah penelitian yang dilakukan oleh jennifer Quinlan dari Drexel University, Philadelphia.

Quinlan mengungkapkan bahwa mencuci daging ayam mentah tidak akan menghilangkan bakteri maupun membunuhnya, proses ini justru akan memicu penyebaran bakteri ke udara atau yang biasa di kenal dengan aerolisasi. Penelitian ini juga didukung oleh Departemen Pertanian Amerika (USDA).

Dalam penelitian ini, Quilan menggambarkan dalam videonya bahwa percikan dari kran yang digunakan untuk mencuci ayam sebelum dimasak akan menyebar ke area sekitar, termasuk baju, percikan air ini mengandung bakteri seperti salmonella sp dan juga E. coli yang bisa membuat orang terserang diare.

Alternatif lain untuk membersihkan daging ayam yaitu bisa mengelap daging dengan cuka atau jeruk lemon. Hanya saja cara ini tidak direkomendasikan oleh USDA. Selain itu, Quilan juga menyarankan membeli daging ayam yang sudah  di-fillet dan dibungkus kuat dengan plastik. Sedangkan untuk menghilangkan bakterinya, USDA menyarankan untuk menghilangkan bakterinya dengan teknik memasak yang tepat (dengan temperatur 73,9 derajat Celcius)

Senin, 26 Agustus 2013

Berita : Massa Tuntut Kades Sumberwulan Diaktifkan

Ilustrasi masa (doc google)

Berita Wonosobo - Ratusan warga Desa Sumberwulan mendatangi kantor balai desa setempat, Seperti yang dikutip portal wonosobo dari suara merdeka (26/8) , masyarakat menuntut diaktifkannya kembali Kades Bambang Edi Sukoco menjadi kepala desa setelah diberhentikan sementara atas kasus penganiayaan yang menimpanya, massa berkumpul di pelataran balai desa setempat pukul 10.00 yang dijaga ketat oleh aparat kepolisian, mereka mencoba untuk masuk ke gedung olahraga desa setempat dan mengadakan orasi. Setidaknya ada 8 perwakilan perangkat desa dan kepala dusun (kadus) berorasi yang menyatakan dukungan terhadap kades Bambang di hadapan masa. Dukungan tersebut juga dinyatakan Sekretaris Desa (Sekdes) Sujoko yang selama ini menjabat sebagai pejabat sementara kades di Desa Sumberwulan.

Koordinator aksi Sudarno mengatakan, masyarakat Sumberwulan masih menghendaki Bambang Edi Sukoco untuk menjadi kepala desa yang menjabat hingga akhir periode. Menurutnya, selama ini pembangunan desa berjalan lancar dan proses administrasi tidak terganggu.’’Kami warga menghendaki Kades Bambang memimpin sampai akhir periode. Kami meminta pemerintah daerah untuk mencabut pemberhentian sementara agar bisa memimpin kami kembali secara resmi. Ada sembilan perangkat desa sudah tanda tangan menyatakan dukungan,’’ katanya.

Kepala Bidang Pemerintahan Desa, Bapermasdes Kabupaten Wonosobo, Retno Eko Safariati dikonfirmasi mengatakan, pemberhentian sementara Kades Sumberwulan Bambang Edi Sukoco sejak 5 Juli 2013. Pemberhentian tersebut, mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 72 tahun 2005 Pasal 18 tentang Desa dan Perda Nomor 6 tahun 2006 tentang Tata Cara Pemilihan Pemerintahan Desa.

Status Hukum

Selama diberhentikan sekretaris desa secara otomatis menjadi pelaksana tugas Kades. Mengenai desakan warga, Retno menjelaskan, saat ini masih menunggu keputusan final dari pengadilan mengenai status hukum kades Bambang. Menurutnya selama proses hukum masih berjalan jabatan kades masih dijalankan oleh pejabat sementara.

Ditambahkan, jika pada akhirnya nanti Kades Sumberwulan dalam upaya menempuh banding dinyatakan bebas oleh pengadilan, sesuai PP 72 tahun 2005 dalam waktu 30 hari nama yang bersangkutan akan direhabilitasi dan ditetapkan menjabat kembali oleh bupati. Namun kalau terbukti bersalah dalam aturan tim pemerintah daerah akan menggelar pemilihan kades baru.

Seperti yang diketahui, Kades Bambang Edi Sukoco oleh Pengadilan Negeri Wonosobo beberapa waktu lalu divonis 3,5 bulan akibat kasus penganiayaan dan pengerusakan. Tim kuasa hukum Bambang menyatakan banding terhadap putusan tersebut.(H67-45,88)

Jumat, 02 Agustus 2013

300 Anggota Porles Diterjukan


WONOSOBO - Untuk persiapan pengamanan Lebaran, Pol­­res Wonosobo akan menerjunkan 300 anggota dilapangan di­­tambah dengan personil pembantu. Anggota Polres akan di­sia­­­gakan hingga mencapai 2/3 dari keseluruhan jumlah personel. Polisi akan memfokuskan pada penanganan kemacetan dan antisipasi rawan kecelakaan. Titik-titik penting yang menjadi sasaran pengamanan yakni seperti perbankan, toko emas dan fasilitas publik lain menjadi prioritas pengamanan, menjelang, selama dan beberapa hari setelah Lebaran.


Dalam upaya pengamanan tersebut Polres menggelar apel pasukan yang diikuti berbagai unsur seperti TNI, Dinas Perhubungan, Satpol PP, PMI, Pramuka, hingga Pemadam Kebakaran dan berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam organisasi kepemudaan. Dengan kesiapan pengamanan oleh berbagai unsur ma­syarakat tersebut, diharapkan Lebaran di Kabupaten Wo­no­sobo dapat dinikmati secara optimal oleh seluruh warga.

Pengamanan Rumah

Kepada masyarakat yang hendak mudik dan meninggalkan rumah selama lebaran, Kapolres Wonosobo AKBP Agus Pujianto SH MSi menghimbau agar mereka mengupa­yakan pengamanan rumah, seperti mengunci pintu, mema­damkan listrik, hingga melepas selang tabung gas agar terhindar dari bahaya kebakaran.

Dia menambahkan, Wonosobo menjadi salah satu jalur tengah yang menghubungkan Purwokerto selama ini relatif aman namun diwaspadai.
Hanya saja, diakuinya, petugas kepolisian siaga di sejumlah titik rawan terjadinya perampokan seperti di perbatasan terminal Sawangan maupun jalur Kaliwiro-Wadaslintang yang membentang kawasan hutan. “Jalur tengah ini yang diantisipasi kerawanan kecelakaan dan kemacetan. Kami juga menerjunkan petugas disiagakan di titik rawan perampokan,” katanya.

Empat lokasi pospam yang disiapkan yaitu di Kompleks Plasa, Pasar Kertek, Terminal Induk Mendolo, dan Sub Terminal Sawangan yang merupakan perbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara. Kasubag Humas Polres AKP Widayatno menambahkan, pospam Kertek difokuskan untuk mengatasi kemacetan dan kecelakaan lalu lintas, pospam Mendolo khusus arus mudik dan arus balik, pospam Plasa mengurai kesemrawutan lalu lintas pasar dan pospam Sawangan dikhususkan untuk penanganan pelanggaran lalu lintas.

Suara Merdeka

Senin, 29 Juli 2013

Warga Tegalsari Dirampok dan Dianiaya

WONOSOBO - Seorang war­ga asal Kampung Tegalsari RT 2 RW 6 Kelurahan Cam­pur­sari, Kecamatan Bulu, Kartini (58) menjadi korban perampokan dan penganiayaan usai keluar dari ATM Bank Jateng Parakan, Senin (29/7).



Sekitar pukul 09.00 usai mengambil uang korban dipaksa masuk mobil dan dipukuli dalam perjalanan Parakan-Kaliwiro Wonosobo.

Dalam aksi tersebut, tiga pelaku ditangkap, yakni Ahmad Sukur Jaya Sironi (31), Su­yanto (37), dan Darto (36) kese­mua­nya warga Tanjung­karang Lampung. Darto sempat lolos dan bersembunyi di perkebunan, namun akhirnya tertangkap sore kemarin.

Sekitar pukul 10.00 oleh para pelaku, korban diturunkan di jalur raya yang sepi Wono­sobo-Kebumen tepatnya di Desa Dempes, Kecamatan Kaliwiro. Korban kemudian berteriak minta tolong dan ada warga melintas bernama Rio Prasetyo dan Haryanto. Lalu keduanya kemudian melapor ke Polsek.

Atas laporan warga itu, lima anggota Polsek Kaliwiro yang dipimpin Kanit Polsek Aiptu Amirudin mengejar dengan sepeda motor menuju arah Kebumen. Mereka hanya di­beri tahu bahwa pelaku menggunakan mobil Avanza. Para petugas berpencar melalui beberapa jalur dan pelaku berhasil dihentikan di perbatasan Wa­das­lintang-Kebu­men tepatnya di dusun Majaena, Desa Peso­dongan, Wadaslintang.

Sok Akrab

Sekitar pukul 11.15 mobil pelaku B-1650-CFQ terperosok ke kebun, kemudian pelaku melarikan diri dan dikejar. Pelaku sempat mendapat amukan massa. Modus yang digunakan pelaku dalam mengelabui korban adalah berlaku sok akrab dan kepada korban.

Menurut cerita Kartini saat ditemui di Mapolres, para pela­ku mengaku bernama Slamet yang merupakan tetangganya di Kecamatan Bulu. ''Mereka sok kenal dan bilang ingin membicarakan jual beli tanah. Sete­lah saya dari ATM para pelaku mendekat dan menarik saya masuk ke dalam mobil.''

Dia mengatakan pada awalnya para pelaku hanya berbincang-bincang seputar tanah. Namun setelah berjalan dari arah Parakan ke Kledung korban sudah mulai curiga dan sesampainya di jalur Kledung korban sempat minta turun karena melihat anaknya berada di jalan raya. ''Saya nanya mau dibawa ke mana, mereka marah-marah. Waktu itu saya melihat anak saya di jalur Parakan-Kledung,'' terangnya.

Dijelaskan, setelah sampai di Kalikuto, Kecamatan Kertek tiba-tiba para pelaku merampas harga benda berupa kalung seberat 12 gram, 2 cincin 5 gram, uang tunai Rp 250.000, dan sebuah ponsel merk Cross.

Minggu, 28 Juli 2013

SMA Negeri 1 MOJOTENGAH Jadi Sekolah Adiwiyata Tingkat Provinsi Jawa Tengah


SMA Negeri 1 Mojotengah berhasil menjadi Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan (ADIWIYATA) Tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2013. Menurut Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Mojotengah, Dra. Sri Widyastuti, penetapan ini sesuai dengan SK Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah Nomor : 3057 tahun 2013 tanggal 7 Juni 2013. Atas keberhasilan ini, SMAN 1 Mojotengah kini mulai berbenah lagi untuk mengikuti Lomba Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional. Hal ini diungkapkan Sri Widyastuti, dalam rilisnya ke Bagian Humas Setda Wonosobo, Kamis 25 Juli.

Selain Sekolah ADIWIYATA, SMAN 1 Mojotengah juga berhasil menjadi Sekolah SEHAT tingkat Kabupaten Wonosobo, sebagaimana yang tertuang dalam SK Bupati Wonosobo Nomor : 441.5/276/2013 tanggal 16 Juni 2013.


Menurut Sri Widyastuti, hal ini tercapai berkat kerja keras dan dukungan semua pihak, baik siswa, guru, maupun orang tua siswa, serta instansi terkait. Selain itu melalui misi SMA Negeri 1 Mojotengah, yakni Mewujudkan Lingkungan Sekolah yang berprestasi dan mencintai lingkungan, SMA Negeri 1 Mojotengah beberapa kali berhasil menyabet juara sekolah sehat dan bersih, diantaranya berhasil menjadi pemenang Green School Award tahun 2012 dan 2013, yang diselenggarakan dalam rangka Dies natalis UNNES.

SMAN 1 Mojotengah tampil sebagai sekolah Adiwiyata dan sekolah sehat, berkat beberapa kriteria yang berhasil dipenuhi, yakni sekolah yang mampu memberikan gambaran tentang komitmen mereka terhadap kebijakan konservasi maupun ramah lingkungan. Kriteria ini dilihat dari informasi dasar yang dimiliki, seperti kondisi fisik sekolah, baik secara spasial maupun dalam hal populasi, lokasi sekolah dan jumlah ruang hijau, dan juga informasi tentang penggunaan energi, transportasi, penggunaan air dan daur ulang serta pengolahan limbah.

Selain itu, pihaknya juga menerapkan prinsip sebagai sekolah hijau (green school), yakni sekolah yang melaksanakan proses pembelajaran dengan menerapkan prinsip-prinsip berwawasan lingkungan, sehingga sikap dan perilaku siswa maupun warga sekolah lainnya, seperti guru dan staf, menggunakan prinsip berwawasan lingkungan hidup dan secara proaktif berpartisipasi sebagai pembina lingkungan untuk meningkatkan kualitas hidup warga sekolah dan masyarakat di sekitarnya.

Prinsip dasar yang digunakan dalam green school ini adalah partisipatif, berkelanjutan, dan menyeluruh. Komponen sekolah, yakni siswa, guru, dan karyawan, selalu ikut berpartisipasi dalam pembinaan lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut dilakukan secara berkelanjutan dan menyeluruh pada berbagai aspek.

Beberapa kegiatan sekolah yang telah dilaksanakan dalam rangka penerapan sekolah sehat dan hijau, yang telah dilaksanakan sejak beberapa tahun terakhir, diantaranya kegiatan siswa menanam, dalam kegiatan ini siswa membawa 1 jenis tanaman, terutama tanaman keras. Selanjutnya dilaksanakan gerakan menanam dengan melibatkan seluruh komponen sekolah di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat sekitar. Kemudian ada kegiatan Pramuka Go Green, Lomba Taman Kelas dan Lingkungan Sekolah, Pengolahan Sampah, Daur Sampah An-Organik, dan Pembuatan Briket dari Limbah Durian.

Pembibitan juga dilaksanakan di SMAN 1 Mojotengah, yang dilaksanakan dalam rangka kegiatan praktikum ketrampilan pertanian melalui pembuatan bibit, penyemaian dan pembenihan yang dilakukan oleh siswa kelas X dan XI. Pembenihan berupa tanaman sayur dan tanaman keras seperti albasia dan pinus. Kegiatan ini juga dilakukan oleh karyawan sekolah.

Disamping itu masih ada Pembuatan Kebun Benih Sekolah serta Praktik Lapangan Siswa. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka membekali siswa terhadap ketrampilan dalam mata pelajaran yang mendukung proses pembelajaran.

Untuk lebih meningkatkan pemahaman siswa tentang lingkungan hidup, di SMAN 1 Mojotengah juga dilakukan Penelitian Siswa Berbasis Pengolahan Limbah, yang dilaksanakan dalam rangka menambah ketrampilan siswa di bidang Keterampilan Ilmiah Remaja (KIR).

Terkait penghargaan sekolah Adiwiyata dan sekolah sehat, Sri Widyastuti lebih lanjut menjelaskan, hal ini merupakan bagian dari komitmen serius pihaknya, sebagai institusi yang terus memperjuangkan isu-isu pelestarian lingkungan hidup, khususnya melalui dunia pendidikan.

Sri Widyastuti juga berharap, agar pada tahun-tahun yang akan datang prestasi ini bisa dipertahankan, dan lebih meningkat pada tingkat yang lebih tinggi, melalui perjuangan dan kekompakan semua komponen sekolah dan pihak-pihak terkait, seperti Pemerintah, Swasta maupun para Orang tua Siswa, dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang sehat dan siswa yang peduli kelestarian ekosistem dan lingkungan hidup di sekitarnya.

Senin, 06 Mei 2013

Letak Geografis Kota Wonosobo


Letak geografis kota wonosobo secara administratif Wonosobo berbatasan langsung dengan enam kabupaten, yaitu: Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Batang; Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang; Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Kebumen; Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Kebumen.
Kabupaten Wonosobo memiliki luas 98.468 hektar (984,68 km2) atau 3,03% (persen) dari luas Jawa Tengah dengan komposisi tata guna lahan terdiri atas tanah sawah mencakup 18.696,68 ha (18,99 %), tanah kering seluas 55.140,80 ha (55,99.%), hutan negara 18.909,72 ha (19.20.%), perkebunan negara/swasta 2.764,51 ha (2,80.%) dan lainnya seluas 2.968,07 ha (3,01.%).
Letak Geografis Kota Wonosobo

a. Letak

Kabupaten Wonosobo berjarak 120 km dari ibukota Jawa Tengah (Semarang) dan 520 km dari Ibu Kota Negara (Jakarta), berda pada rentang 250 dpl – 2.250 dpl dengan dominasi pada rentang 500 dpl – 1.000 dpl sebesar 50% (persen) dari seluruh areal, menjadikan ciri dataran tinggi sebagai wilayah Kabupaten Wonosobo dengan posisi spasial berada di tengah-tengah Pulau Jawa dan berada diantara jalur pantai utara dan jalur pantai selatan. Selain itu menjadi bagian terpenting dari jaringan Jalan Nasional ruas jalan Buntu-Pringsurat yang memberi akses dari dan menuju dua jalur strategis nasional tersebut.

Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu dari 35 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah yang terletak pada 70.43’.13” dan 70.04’.40” garis Lintang Selatan (LS) serta 1090.43’.19” dan 1100.04’.40” garis Bujur Timur (BT), dengan luas 98.468 ha (984,68 km2) atau 3,03 % luas Jawa Tengah.

b. Batas Wilayah

Secara administratif Wonosobo berbatasan langsung dengan enam kabupaten, yaitu:

▪ Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Batang;
▪ Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang;
▪ Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Kebumen;
▪ Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Kebumen.

c. Luas Wilayah

Kabupaten Wonosobo memiliki luas 98.468 hektar (984,68 km2) atau 3,03% (persen) dari luas Jawa Tengah dengan komposisi tata guna lahan terdiri atas tanah sawah mencakup 18.696,68 ha (18,99 %), tanah kering seluas 55.140,80 ha (55,99.%), hutan negara 18.909,72 ha (19.20.%), perkebunan negara/swasta 2.764,51 ha (2,80.%) dan lainnya seluas 2.968,07 ha (3,01.%).

Kondisi Geologi

a. Iklim

Wonosobo beriklim tropis dengan dua musim yaitu kemarau dan penghujan. Suhu udara rata-rata 24 – 30o C di siang hari, turun menjadi 20 oC pada malam hari. Pada bulan Juli – Agustus turun menjadi 12 – 15 o C pada malam hari dan 15 – 20 o C di siang hari. Rata-rata hari hujan adalah 196 hari, dengan curah hujan rata-rata 3.400 mm, tertinggi di Kecamatan Garung (4.802 mm) dan terendah di Kecamatan Watumalang (1.554 mm).

b. Jenis Tanah

Keadaan tanah di Kabupaten Wonosobo dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

▪ Tanah andosol (25%) terdapat di Kecamatan Kejjar, sebagai Kecamatan Garung, Kecamatan Mojotengah, Kecamatan Watumalang, Kecamatan Kertek dan Kecamatan Kalikajar.
▪ Tanah Regosol (40%) terdapat di Kecamatan Kertek, Kecamatan Sapuran, Kecamatan Kalikajar, Kecamatan Selomerto, Kecamatan Watumalang dan Kecamatan Garung.
▪ Tanah Podsolik (35%) terdapat di Kecamatan Selomerto, Kecamatan Leksono dan Kecamatan Sapuran.

Jenis tanah di Kabupaten Wonosobo meliputi tanah andosol seluar 10.817,7 ha, tanah regosol seluas 19.372,7 ha, tanah latosol seluas 63.043,4 ha,tanah argonosol seluas 761,1 ha, mediterian merah kuning seluas 3.054 ha dan gramosol seluas 1.778,6 ha.

Dilihat dari aspek topografi, Kabupaten Wonosobo bisa dibagi menjadi tiga bagian, yaitu, daerah dengan ketinggian 250–500 m dpl seluas 33,33% dari seluruh wilayah. Daerah dengan ketinggian 500–1.000 m dpl seluas 50,00% dari seluruh areal dan daerah dengan ketinggian > 1.000 m dpl seluas 16,67% dari seluruh wilayah, sehingga menjadikan ciri dataran tinggi sebagai wajah Kabupaten.


Kabupaten Wonosobo sebagai daerah yang terletak di sekitar gunung api muda menyebabkan tanah di Wonosobo termasuk subur. Hal ini sangat mendukung pengembangan pertanian, sebagai mata pencaharian utama masyarakat Wonosobo.Namun demikian karena topografinya dengan lembah yang masih curam. menyebabkan sering timbul bencana alam seperti tanahlongsor.


Sumber : wonosobokab.go.id